Jam Islami



Minggu, 07 Juli 2019

Kumpulan Kitab Fiqih Download

Download Kitab At-taqrirot As-Sadidah - Al-Kaff

Written By Unknown on Rabu, 29 Januari 2014 | 01.14.00


Judul kitab : At-taqrirot As-Sadidah Fil Masa'il Al-Mufidah


Penulis : Syekh Hasan bin Ahmad bin Muhammad Al-Kaff


Muhaqqiq : -


Penerbit : Darul Ilmi Wad Da'wah, Tarim - Yaman


Cetakan : Pertama


Tahun : 2003


Link download (PDF) : Klik disini 

Deskripsi: Kitab ini merupakan salah satu kitab fiqih madzhab syafi'i yang paling populer dikalangan pelajar ilmu fiqih saat ini, dan sering kali dijadikan rujukan oleh para santri dalam mempelajari fiqih madzhab syafi'i. Kelebihan utama kitab ini adalah metode penyusunannya yang sangat rapi, dimana permasalahan yang dibahas diberi nomer dan tabel untuk memudahkan pemahaman, seperti tabel perbedaan antara "al-lams" dan "al-mass" pada penjelasan masalah perkara-perkara yang membatalkan wudhu', perbedaan antara wudhu dan tayammum, tabel hukum seputar siklus haid dan nifas, dan pada pembahasan-pembahasan lainnya. Selain itu selain mencantumkan ukuran dan timbangan yang berlaku dalam fiqih, seperti farsah dan qullah, dicantumkan juga ukuran dan timbangan tersebut jika memakai ukuran dan timbangan yang berlaku pada masa ini.

al-Taqrirat al-Sadidah Bagian Muamalah Juz 2

al-Taqrirat al-Sadidah Qism Buyu' wal Faraidh adalah kitab lanjutan dari kitab al-Taqrirat al-Sadidah Qism al-Ibadah karya Habib Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim al-Kaf yang sebelumnya sudah saya tulis di tulisan sebelumnya


Jika dalam bahasa Indonesia buku karya Habib Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim al-Kaf ini ada dua bagian yaitu al-Taqrirat al-Sadidah bagian Ibadah dan al-Taqrirat al-Sadidah bagian muamalah

Dalam bagian muamalah ini berisikan permasalahan Jual Beli, Ilmu Waris, Munakahat dan Jinayat bagian kedua dalam bab Fiqih yaitu hal hal Muamalah yaitu amalan-amalan yang berhubungan  dan berhadapan dengan orang lain

الـتـقـريـرات الـسـديـدة في الـمـسـائـل الـمـفـيـدة
قسم البيوع والفرائض



Tanwir al-Qulub fi Mu'amalah al-'Allam al-Ghuyyub



Kitab Tanwir al-Qulub fi Mu'amalah 'Allam al-Ghuyub (تنوير القلوب في معاملة علام الغيوب) adalah sebuah kitab yang masyhur di dunia Islam. Kitab ini adalah salah satu ‘kitab wajib’ yang dipelajari pada hampir seluruh pesantren di Indonesia. Penulisnya adalah Syaikh Muhammad Amin al Kurdi yang kadang-kala juga disebut Syaikh Sulaiman al-Kurdi. Beliau dilahirkan pada paruh kedua abad ke-13 di kota Irbil dekat kota Moshul di Irak, sebuah kota yang cukup populer terutama setelah serangan dan pendudukan Amerika Serikat atas negeri itu. 

Ayah beliau adalah seorang Ulama Besar, pemuka dalam Thariqat al Qadiriyah, sebuah thariqat yang telah dirintis oleh Syaikh Abdul Qadir al Jaelani. Guru beliau yang terkenal adalah Syaikh al Quthub, Mulana Umar, seorang wali Allah yang tinggal di Irbil, Irak. Guru beliau inilah yang banyak menggembleng beliau dengan ilmu-ilmu syari’at dan thariqat, sehingga membuat beliau memiliki dasar yang kuat dalam ilmu lahir dan batin.

Syaikh Amin al Kurdi adalah seorang pelajar yang gigih, di mana masa mudanya dihabiskan untuk belajar berbagai disiplin ilmu agama dari guru-guru besar yang masyhur pada zaman beliau. Setelah menamatkan pelajaran di Irbil beliau memulai perjalanan spiritual mengunjungi orang-orang shalih dan makam orang-orang shalih. Kemudian dengan bekal tawakkal kepada Allah dan doa dari para guru, beliau memulai perjalanan ke Hijaz dengan menumpang kapal laut dari kota Basrah, Irak. Beliau tinggal di Mekkah belajar dari guru-guru terkemuka di Mekkah dan tenggelam dalam berbagai amal sholih. Pada tahun 1300 H. beliau berangkat ke Madinah dan menetap di sana, belajar dan menempa rohani di Baqi’ dan Jabal Uhud.

Pada akhir usia beliau, beliau pindah ke Mesir karena didorong rasa rindu dan cinta kepada para Ahlul Bait Rasulullah SAW., yang saat itu sangat banyak menetap di Mesir, ketimbang di Mekkah dan Madinah sendiri. Saat menetap di Mesir inilah beliau meneguk habis pelajaran-pelajaran berharga dari kitab fiqih as Syafi’i dan kitab-kitab hadis yang utama. Tercatat guru beliau dalam fiqih adalah: Syaikh Asymuni dan Syaikh Musthafa ‘Izz as Syafi’i, dua orang ulama Universitas Al- Azhar paling terkemuka di zaman itu di Mesir. Dalam ilmu hadis beliau belajar dariSyaikh Samin al Bisyri, serta para Masyaikh di al Azhar dengan menamatkan kitab Shohih Bukhari dan Muslim, Musnad as Syafii, al Muatha’ Imam Maliki, serta Tafsir Baidhawi.

Beliau diangkat sebagai Syaikh Besar pada thariqat al Khalidiyah dan Naqsyabandiyah di Mesir. Kemasyhuran beliau menyinari seluruh Mesir sebagai Ulama ahli Fiqih madzhab Syafi’i dan Syaikh Besar Thariqat Naqsyabandi. Dan, beliau wafat pada tahun 1332 H. dan dimakamkan di sebelah makam dua Imam besar dunia, Imam Jalaluddin al Mahali dan Imam Tajuddin as Subki.

Isi Kitab dan Pandangan Penulis

Kitab Tanwirul Qulub dibagi atas tiga bagian besar. Pertama, bagian Aqidah Biddiniyyah terdiri atas 3 bab. Kedua, bagian Fiqih terdiri atas 11 bab yang dibagi menjadi 94 pasal. Dan ketiga, bagian Tasawwuf dibagi atas 22 pasal.

Pada pembahasan akidah dengan terang-terangan beliau mengatakan bahwa pembahasan isi kitab hanya berdasarkan kepada ajaran akidah Ahlussunah wal Jama’ah al Asy’ariyah dan Maturidiyah saja dengan menyertakan dalil-dalil aqlidan naqli serta menolak suybhat yang dimunculkan oleh ajaran sesat di luar Ahlussunah (halaman 66).

Beliau mengatakan bahwa Allah memiliki 20 sifat yang wajib atas Allah antara lain: Wujud, Qidam, Baqa’, Mukhalafatuhu Lilhawadits, Qiyamuhu Binafsih, Wahdaniyah, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’, Bashr, Kalam, Qadirun, Muridun Alimun, Hayyun, Sami’un, Bashirun, Mutakalimun.

Dan 20 sifat yang Mustahil atas Allah antara lain: Adam, Huduts, Fana’, Mumatsalutuhu Lilhawadits, Qiyamuhu Bighayrih, Ta’addud, Ajz, Karahah, Jahil, Maut, Saman, Umy, Bukm, Kaunuhu Ajizan, Kaunuhu Karihan, Kaunuhu Jahilan, Kaunuhu Mayyitan, Kaunuhu Asam, Kaunuhu A’ma, Kaunuhu Abkam.

Adapun sifat Jaiz yaitu melakukan segala sesuatu yang mungkin atau meninggalkannya. Dalil atas sifat ini adalah surat Al Qashash ayat: 68 “dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.”

Dalam bab Fiqih beliau menjelaskan dalam kitabnya secara lengkap pada hampir seluruh permasalah fiqih Imam Syafii. Meskipun pembahasannya tidak dilakukan secara panjang lebar namun mencukupi untuk bekal para pelajar pesantren memahami ilmu fiqih dalam mazhab Syafii, karena di samping cukup lengkap dalam berbagai permasalahan yang diperlukan, juga disertai dengan dalil-dalil pendukung dari ayat-ayat al Qur’an dan hadis-hadis nabi. Dibandingkan dengan kitab-kitab sejenisnya, misalnya kitab Kifayatul Akhyar karangan Imam Taqiyuddin, kitab Tanwirul Qulub ini memiliki keunggulan tersendiri. Di mana dalam kitab ini terdapat pembahasan bab Fara’idh (warisan) dengan cukup lumayan luas, yang tidak terdapat dalam kitab Kifayatul Akhyar itu.

Sedangkan dalam pembahasan Tasawwuf, beliau memulainya dengan pembahasan lima pokok yang menjadi sifat tasawwuf, yaitu: 1. Taqwa kepada Allah, wara’ dan istiqamah, 2. Mengikuti sunnah nabi perkataan dan perbuatannya, 3. Memalingkan diri dari makhluk, bersabar dan bertawakal kepada Allah, 4. Ridha, dan 5. Taubat dan Syukur kepada Allah.

Sedemikian kokohnya pemahaman beliau atas tiga prinsip dasar akidah, fiqih dan tashawwuf itu, sehingga beliau mengatakan dengan tegas bahwa telah menjadi keharusan atas umat yang hidup di akhir zaman ini untuk bertaqlid kepada Imam-Imam Mujtahid dari faham Ahlussunnah dan Imam madzhab yang Empat saja. Dengan mengikuti mereka berarti akan selamat dalam kehidupan beragama. Sebaliknya, beliau menegaskan bahwa barangsiapa yang tidak ikut salah seorang dari para Imam ini, (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali), dan mengucapkan bahwa dia terlepas dari Madzhab yang Empat serta hanya menggali langsung dari kitab al Qur’an dan Sunnah saja, maka orang tersebut tidak akan selamat, dan termasuk orang yang sesat lagi menyesatkan!

Menurut beliau, hal itu terjadi adalah karena keterbatasan waktu orang sekarang dalam memahamkan agama, serta banyaknya pengaruh rusak akibat lemahnya moralitas, kedurhakaan yang meluas, dan tingginya kecintaan pada hal-hal duniawiyah. Di samping tidak tersusun rapinya buku-buku pembahasan masalah agama di luar Madzhab yang Empat ini. Apalagi dilihat tentang kedalaman ilmu, jelas orang sekarang tertinggal jauh jika dibandingkan dengan ilmu para Imam Madzhab yang Empat. (Lihat Tanwirul Qulub, halaman 65-66, cetakan Darul Kutubi al Ilmiyah, Beirut).

Sanjungan dan Kritik

Kitab Tanwir al Qulub ini mendapat sanjungan yang luas dari kalangan ilmuwan di negeri Indonesia. Para ulama pesantren menjadikan kitab ini sebagai ‘kitab wajib’ untuk seluruh pelajar, terutama pesantren di tanah Jawa dan Sumatera. Di negeri Malaysia, kitab ini juga dipakai pada sekolah-sekolah Agama di sana dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Lembaga Bahasa milik Pemerintah Malaysia. Selain dipakai di pesantren, ternyata kitab ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Pustaka Hidayah, Bandung dengan judul ManusiaBumi Manusia LangitRahasia Menjadi Muslim Sempurna, terbit pada tahun 2010.

Demikian terkenalnya kitab ini di Indonesia, sehingga telah beredar tidak kurang dalam enam edisi cetakan dengan penerbit yang berbeda, meskipun kesemuanya masih dalam bahasa Arab, antara lain: Terbitan Maktabah Keluarga Semarang, Terbitan Surabaya, Terbitan Darul Kutubi al Arabiyah, Indonesia, Terbitan Darul Fikri, Mesir, Terbitan Maktabul Taufiqiyyah, dan terbitan Darul Kutubi al Ilmiyah, Beirut, Libanon, yang dilengkapi dengan catatan pinggir olehMuhammad Riyadl. Sayangnya, edisi terjemahan dalam bahasa Indonesia hanya ada satu saja, dan itupun tidak dilengkapi dengan teks ayat-ayat al Qur’an dan hadis-hadis yang semestinya ada di dalamnya. Dengan keterbatasan ini, orang awam yang tidak mengerti bahasa Arab sangat sulit untuk menikmati apalagi memahamkan, dan meyakini kitab penting ini.

Salah satu penyebab kitab ini masyhur dan tersebar di Indonesia adalah isi kandungannya yang bersesuaian dengan faham yang dianut oleh hampir seratus persen rakyat Indonesia. Dalam akidah misalnya, sudah dimaklumi bahwa faham masyarakat luas adalah faham Ahlussunnah Wal Jama’ah al Asy’ari, sedangkan dalam fikih juga dimaklumi bahwa hampir seratus persen bangsa Indonesia bermadzhab Imam Syafi’i. Sedangkan dalam bidang tashawwuf, mayoritas penganut tashawwuf di negeri ini adalah penganut thariqat Naqsyabandiyah dan Qadiriyah. Dan kalaupun mungkin ada orang tidak menganutnya, paling tidak masyarakat luas sudah menerima dan tidak menolak keberadaan aliran thariqat yang sudah dianggap mu’tabarah, dalam hal ini tentu termasuk ajaran tariqat an Naqsyabandiyah ini.

Kritik dan Kecaman

Secara umum kritik bahkan kecaman sudah sering dialamatkan kepada para penganut aqidah al Asy’ariyah dan khususnya para penganut ajaran thariqat. Sebut misalnya kitab Manhaj al Imam asy-Syafii fi Itsbati al Aqidah oleh Doktor Muhammad bin Abdul Wahab al Aqil, terbitan Maktabah Abwa asy Salaf, Riyadl, tahun 1998 M. Dalam edisi bahasa Indonesia, kitab ini diberi judul Manhaj Aqidah Imam asy-Syafi’i, penterjemah Nabhani Idris dan Saefuddin Zuhri, terbitan Pustaka Imam Syafi’itahun 2002


Keberadaan kitab itu cukup menghebohkan para ulama Indonesia, bahkan juga masyarakat awam karena isinya dianggap sebagai pemelintiran terhadap Akidah Imam asy-Syafi’i yang dikenal murni pengikut generasi awal Salaf as Shalih,menjadi Akidah Salaf ajaran Ibnu Taimiyyah. Kini, beberapa ulama di Indonesia mulai membahas keberadaan kitab ini, bahkan beberapa di antaranya telah mulai menulis kitab sanggahan, antara lain, Syahamah Jakarta dan LBM Nadhatul Ulama Jember.


Kritik terhadap ajaran thariqat di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir ini pun sudah sangat gencar dilakukan, terutama oleh para pengikut Mazhab SalafiIndonesia antara lain: Hartono Ahmad Jaiz dalam bukunya “Belitan Iblis”, dan buku “Kesesatan Tahlilan dan Yasinan”. Juga Rapot Merah Aa Gym, MQ Dalam Penjara Tasawwuf, oleh Abdurrahman Al Mukaffi, (buku ini sudah penulis jawab dalam buku yang berjudul Salah Faham Penyakit Umat Islam Masa Kini). Dari luar negeri adalagi kitab terjemahan yang berjudul “Darah Hitam Tasawwuf” oleh Dr. Ilahi Dhohir.


Namun secara spesifik, kritik terhadap kitab Tanwir al Qulub baru sekali dilontarkan oleh seorang ulama Timur Tengah bernama Muhammad Riyadl. Kitab tersebut berjudul Tanwir al Qulub fi Muamalati Allam al Ghuyub, terbitan DarulKutub al Ilmiyah, Beirut Lebanon, cetakan pertama tahun 1955 M. Di dalam kitabnya yang tebalnya mencapai 621 halaman ini, Muhammad Riyadl membantah, bahkan menyatakan sesat beberapa masalah yang telah dibahas oleh Syaikh Muhammad Amin al Kurdi. Kritikan terbanyak dilontarkan terutama dalam pembahasan Aqidah (ushuluddin) dan Thariqat Naqsyabandi.


Salah satu kritikan Muhammad Riyadl yang agak keras adalah masalah sifat WujudAllah, di mana beliau mengatakan wajib meyakini wujud Allah secara dhahiriyahapa yang tertulis pada ayat al Qur’an dengan menolak takwil. Sehingga jika ditanyakan di mana Allah, maka wajib menjawab Allah ada di seluruh tempat, tetapi keberadaan Allah di seluruh tempat itu adalah dengan Ilmu-Nya bukan dengan Dzat-Nya. Kemudian beliau mengatakan lagi, bahwa wajib meyakini Allah itu dengan Dzat-Nya bertempat di langit-Nya, di atas Arasy-Nya, di atas segala yang paling tinggi sesuai dengan Keperkasaan dan Keagungan-Nya! Sebagai penyokong pendapatnya ini dikemukakannya dalil “Dialah Tuhan yang di langit” (QS. Ah Zukhruf: 84) dan firman Allah: “Tuhan yang Ar Rahman duduk di atas Arasy” (QS. Thaha ayat: 5). (Lihat halaman 30).


Hal tersebut bertolak belakang dengan pemahaman Syaikh Amin al Kurdi yang meyakini Allah itu ada tanpa memerlukan tempat, tanpa memerlukan waktu, dan tidak memiliki pencipta, senada dengan pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ahyang meyakini Allah maujud bi la makan, wa la zaman, (Allah ada tanpa tempatdan Allah ada tanpa waktu). Imam Hanafi, seorang Imam dari generasi Salaf as Shalih mengatakan dalam kitabnya al Washiyyah, :“Penduduk surga melihat Allah dengan pasti tanpa mensifati-Nya dengan sifat benda, tidak menyerupai makhluknya dan tanpa berada di satu arah pun ” (tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak di kiri, tidak di bumi dan tidak di langit-pen)”. Sementara, Imam Ali bin Abi Thalib berkata: “Allah itu ada sebelum adanya tempat, dan sekarang,(setelah menciptakan tempat) Allah tetap seperti semula,yakni ada tanpa tempat” (lihat kitab al Farq baina al Firaq halaman 333).


Penulis mencoba meneliti ayat al Qur’an yang dikemukakan oleh Muhammad Riyadl, ternyata ayat itu dipotong sedemikian rupa, sehingga tidak sempurna lagi wujud dan maksudnya. Seharusnya ayat tersebut berbunyi, “Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi, dan Dia-lah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui.( al Qur’an surat al Zukhruf 84).Sebagai catatan, kata ‘yang disembah di dalam kurung’ adalah makna takwil yang dilakukan mufassir ahli sunnah. Sayangnya, secara sengaja beliau memotong ayat itu sampai kepada bunyi “Tuhan di langit saja”, lengkapnya “Dia-lah Tuhan (yang disembah) di langit” dengan menghilangkan sambungan berikutnya dari ayat ini yang lengkapnya ada sambungan,“Dan Tuhan (yang disembah) di bumi.” Dalam kaidah ilmiah, perbuatan menggunting dan memotong dalil agar sesuai selera, dan dapat dipergunakan untuk membela faham sendiri, adalah perbuatan tercela yang pada ujungnya akan merugikan diri sendiri. Bagaimana pun para pembaca yang kritis akan mengetahui juga perbuatan itu setelah meneliti dalil-dalil yang dikemukakan dengan merujuk kepada sumber dalilnya yang asli.

Wallahu a’lam bishowab

Artikel di atas  diambil dari pautan 





Kitab Fiqh al-Sunnah merupakan sebuah kitab yang terkenal menjadi rujukan masalah fiqh di kalangan ulama dan umat Islam pada masa mutakhir ini. Kitab ini adalah hasil karya seorang ulama terkenal dari Mesir, iaitu al-Syaikh Sayyid Sabiq. Beliau dilahirkan pada tahun 1335/1915 di Mesir dan wafat pada tahun 1420/2000.


Menurut Imam Hasan al-Banna dalam pengantar cetakan pertamanya, salah satu kelebihan kitab Fiqih Sunnah ialah paparannya yang mudah dan praktis, disertai dengan kupasan panjang lebar sehingga sangat sesuai dengan keperluan umat saat ini. Karena itulah, tidak menghairankan jika kitab ini menjadi salah satu rujukan utama dalam masalah fiqih di dunia Islam.


Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia. Terjemahan kitab ini dalam bahasa Melayu/Indonesia telah diterbitkan oleh beberapa syarikat penerbitan dan mendapat sambutan ramai. Para ulama tempatan telah menjadikan kitab ini sebagai teks majlis pengajian ilmu mereka.


Maklumat lanjut mengenai kitab Fiqh al-Sunnah ini saya paparkan artikel berikut yang  diambil dari pautanhttp://abdurobbihi.blogspot.com/2013/01/antara-kitab-fiqih-sunnah-dan-shahih.html  dengan sedikit perubahan ejaan dan bahasa.


Pada awalnya, beliau  mulai dengan menulis makalah ringkas tentang fiqh khusus mengenai  bab Thaharah di majalah mingguan al-Ikhwan al-Muslimun. Dalam tulisannya itu, beliau sering mengutip kitab-kitab hadits ahkam, seperti Subulu al-Salam karya al-Shan’ani (w. 1182 H) yang mensyarah kitab Bulugh al-Maram karya Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H), Nailu al-Authar karya al-Syaukani syarah Muntaqa al-Akhbar karya Majduddin Ibnu Taymiyyah al-Jadd (w. 652 H). Sampai akhirnya kegiatan menulis fiqh  itu beliau teruskan menjadi sebuah buku.


Jilid pertama Fiqh al-Sunnah diterbitkan pada tahun 1365 H di Mesir atau sekitar tahun 1949 M, dan pada muqaddimahnya diberi sambutan oleh pemimpin al-Ikhwan al-Muslimun, Syeikh Hasan al-Banna (w. 1949 H).


Jilid kedua Fiqh al-Sunnah ini mengupas mengenai masalah zakat, puasa, jenazah dan hal-hal yang berkaitan dengannya, haji, hingga masalah pernikahan.


Kemudian dilanjutkan dengan jilid ketiga, yang berisikan berbagai maslah fiqh yang berkaitan dengan pernikahan (wali dan kedudukannya, hak dan kewajiban suami-istri, nafkah, akad nikah, walimah, dan sebagainya), serta berbagai hal yang berkaitan dengan hudud/hukuman.


Terakhir ia menulis jilid keempat, yang merupakan jilid terakhir dari kitab Fiqh al-Sunnah. Jilid terakhir ini mengupas mengenai jihad, perang, jizyah, ghanimah, kafarat sumpah, hukum jual-beli, riba, pinjaman, gadai, mudharabah, dan hutang.


Bilangan jilidnya berubah mengikut cetakan sesebuah syarikat penerbitan.


Beberapa karangan beliau yang lain: Mashadir al-Quwwah fi al-Islam, ar-Riba wa al-Badil, al-Aqaid al-Islamiyyah, Islamuna.


ISI KITAB
Dalam pembukaan kitab Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq memulai kitabnya dengan menjelaskan keuniversal ajaran Islam.Kemudian beliau juga menjelaskan sejarah tasyri’ hukum islam secara ringkas. Kemudian baru beliau memulai kitabnya dari bab Thaharah.


Sebagaimana namanya; Fiqh al-Sunnah, Sayyid Sabiq sering mengemukakan hukum fiqhnya terlebih dahulu, baru kemudian beliau kuatkan dengan dalilnya baik dari al-Qur’an maupun dari al-Sunnah. Seperti dalam bab Thaharah, Sayyid Sabiq sebutkan macam-macam air, setelah itu beliau sebutkan dalil naqlinya.


Sayyid Sabiq lebih cenderung menjauhi perdebatan mazhab yang panjang, dan menyebutkan ikhtilaf di antara para Ulama’ pada hal-hal yang memang perlu disebutkan saja. Tujuan beliau adalah mempermudah bagi para pembaca untuk memahami kitabnya. Kitab beliau ini juga tidak terikat kepada satu mazhab tertentu.


[Download kitab Fiqih Sunnah: Klik]

KITAB TA’LIQ TERHADAP FIQIH SUNNAH
Kitab Fiqh al-Sunnah ini juga tak lepas dari kritik dari ulama’ lain, karena memang masing-masing ulama berijtihad yang sangat mungkin hasil Ijtihad itu berbeza satu sama lain. Kitab yang mengkritik kitab Fiqh al-Sunnah adalah kitab “Tamamu al-Minnah fi al-Ta’liq ‘ala Fiqhi al-Sunnah” karya Muhammad Nashiruddin al-Albani (w. 1999 M).


Inti dari kritik dalam kitab Tamamu al-Minnah ini, boleh disimpulkan menjadi dua tema besar:


Pertama, berkenaan dengan hadits yang dipakai berasal dari buku para ulama terdahulu. Sayyid Sabiq tidak men-tahqiq atau memilahnya lebih jauh, karena berprinsip pada kaidah “Setiap ilmu yang diambil dari ahlinya bisa diterima”. Sebagai contoh Syaikh al-Albani berbeza pendapat dengan Syaikh Sayyid Sabiq dalam hadits tentang kewajiban zakat perdagangan. Menurut Syaikh al-Albani hadits tersebut dhaif.


Kedua, perbezaan sumber fiqh antara keduanya. Syaikh Al-Albani cenderung mengikuti makna tersurat (zhahir al-nash) dari teks hukum, sedangkan Syaikh Sayyid Sabiq lebih dekat pada maqashid nash (tujuan makna nash -red). Syaikh al -Albani tidak segan berbeza pendapat dengan jumhur ulama terdahulu, seperti dalam pengharaman emas bagi wanita, sedangkan Syaikh Sayyid Sabiq biasanya menghormati pendapat jumhur ulama.Mengkritik hasil karya ulama lain bukanlah hal baru dalam dunia Islam.

Kitab Tamam al-Minnah ini boleh dimuat turun di pautan berikut:



Semoga bermanfaat.






Kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh     (الفقه الإسلامي وأدلته  ) merupakan sebuah kitab fiqh agung zaman mutakhir ini, yang masyhur menjadi telaah para ulama dan rujukan di pusat-pusat pengajian Islam. Kitab yang dianggap sebagai sebuah ensiklopedia fiqh dan perundangan Islam ini adalah karya Dr. Wahbah al-Zuhaily - seorang ulama kontemporari yang terkenal di dunia Islam.


Kandungan kitab ini menyentuh keseluruhan aspek tentang fiqh yang bermula daripada persoalan taharah, ibadat, muamalat dan juga aspek-aspek undang-undang jenayah, wasiat, undang-undang keluarga, undang-undang kontrak dan lain-lain.


Pembahasan kitab ini menekankan metod fiqh perbandingan mazhab fiqh, khususnya empat mazhab Ahl al-Sunnah wa Jama’ah, iaitu mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Namun begitu, terkadang Dr.  Wahbah al-Zuhaily ada menyebut juga madzhab lain seperti Imamiyah dari Syi’ah dan Ibadhiyah dari Khawarij. 


Antara keistimewaan kitab  ini ialah ia juga disertai dengan  pentarjihan hukum yang dilakukan oleh Dr. Wahbah al-Zuhaily terhadap sesuatu masalah yang dibincangkan berdasarkan  yang  sumber hukum Islam, baik yang naqli maupun aqli yang didasarkan pada prinsip umum dan semangat tasyri’. Sejalan dengan sikap kritis dan praktis ummah, kemasyhuran kitab ini telah mengungguli kitab-kitab fiqh perbandingan karya ulama sebelumnya.

Kitab ini telah mengharumkan nama Dr. Wahbah al-Zuhaili di peringkat internasional.  Kitab fiqh perbandingan ini memiliki pembahasan yang luas dengan bahasa yang jelas dan susunan yang sistematik.  Keterangannya disertai dengan dalil yang jelas dan rujukan yang lengkap serta penjelasan nilai hadis yang dikemukakan.  Pada saat ini kitab al-Fiqh Islami wa Adillatuhu telah mendominasi pengkajian fiqh perbandingan di berbagai institusi pengajian tinggi, dalam berbagai forum ilmiah fiqh dan pengajian serta menjadi rujukan utama para ulama fiqh kontemporari dalam kajian-kajian fiqh mereka.


Perbahasan kitab ini dimulakan dengan seluk-beluk fiqh Islam dan keistimewaannya, sejarah ringkas tokoh-tokoh mazhab, perspektif perbezaan ijtihad fiqh dalam Islam, dan seterusnya dimulakan dengan perbahasan thaharah, solat, sehinggalah kepada perbahasan yang lebih kompleks lainnya.


Berikut saya sebutkan perbahasan keseluruhan kitab ini berdasarkan bukuFiqih Islam wa Adillatuhu,  iaitu edisi terjemahan yang diterbitkan oleh Gema Insani, Indonesia; 



JILID 1: Pengantar Ilmu Fiqih, Tokoh-tokoh Mazhab Fiqih, Niat, Thaharah, Solat
JILID 2: Solat Wajib, Solat Sunnah, Zikir Setelah Solat, Qunut dalam Solat, Solat Jama’ah, Solat Jama' dan Qasar.
JILID 3: Puasa, I'tikaf, Zakat, Haji dan Umrah.
JILID 4 Membahas : Sumpah, Nadzar, Hal-hal yang dibolehkan dan dilarang, Kurban dan Aqiqah, Teori-teori Fiqih.
JILID 5: Hukum Transaksi Kewaangan, Transaksi jual beli, insurans, Khiyar, Akad Jual Beli, Akad Ijarah.
JILID 6: Jaminan, Pengalihan hutang, Gadaian, Paksaan, Kepemilikan.
JILID 7: Sistem Ekonomi Islam, Pasar Kewangan, Hukum Hadd Zina, Qazaf, Pencurian.
 JILID 8: Jihad, Pengadilan dan Mekanisme Mengambil Keputusan, Pemerintahan Dalam Islam.
JILId 9: Pernikahan, Talak, Khulu', Meng’illa Istri, Li’an, Zhihar, Masa 'Iddah.  
JILID 10: Hak-hak Anak, Wasiat, Wakaf, dan Warisan. 
Sebagai makluman tambahan, berdasarkan edisi Dar al-Fikr, kitab al-Fiqh Islami wa Adillatuh ini telah diterbitkan sebanyak 8 jilid.  Ia telah diterbitkan dengan edisi terjemahan dalam berbagai bahasa. Berdasarkan edisi Dar al-Fikr tersebut, berikut saya catatkan dua edisi lengkap terjemahan yang telah diterbitkan dalam Bahasa Malaysia dan Bahasa Indonesia (sekadar pengetahuan saya);
 1.     Edisi terjemahan dalam Bahasa Malaysia telah diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur dengan judul Fiqh & Perundangan Islam. Bilangan jilidnya menyamai bilangan cetakan Dar al-Fikr, iaitu 8 jilid. Penterjemahan kitab ini telah dilakukan oleh sebuah panel penterjemah yang diketuai oleh Syed Ahmad Syed Hussain.
2.      Edisi terjemahan dalam Bahasa Indonesia pula telah diterbitkan oleh Gema Insani dengan judul Fiqih Islam wa Adillatuhu. Bilangan jilidnya sebanyak 10 jilid.

Download kitab edisi Arabnya disini: CoverJuz 1Juz 2Juz 3Juz 4Juz 5Juz 6Juz 7Juz 8 

Semoga bermanfaat





Kitab Fawa_id  al-Fawaa_id  karya Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah ini adalah kitab yang luar biasa, dari namanya saja kita dapat mengesan sekian banyaknya manfaat yang terkandung di dalamnya; kerana memang kitab ini mengumpulkan pelbagai faedah yang melimpah dan beragam permasalahan ilmiyah yang tiada duanya.


Padanya terdapat penelitian yang mendalam terhadap pelbagai makna dari hakikat segala sesuatu, penjelasan tentang hikmah syari'at pada beberapa permasalahan yang beraneka ragam, kepentingan Al-Quran dan fiqih Islam disertai penjelasannya pada hal-hal yang tidak diketahui banyak orang. Kemudian menyebutkan hubungan permasalahan-permasalahan tersebut dengan kecemerlangan hati dan kemuliaan jiwa.


Kitab ini disusun berdasarkan bab-bab ilmu, yang diawali dengan bab aqidah, kemudian Tafsir, Hadits, dan seterusnya. Kerana pada asalnya Kitab Al-Fawaaid ini tidak ditulis secara tematik sehingga menyukarkan para pembaca yang ingin memetik manfaat darinya.



Kelebihan Kitab Al-Fawaaid:


Isi kandungan perbahasannya yang bagus, diskusi yang menarik dan susunan yang indah, dan Penulisnya (Ibnul Qayyim) tidak menyusunnya berdasarkan metode tertentu dan sistematik. Seolah-olah dia membiarkannya begitu sahaja sebagai gudang ilmu dan pengetahuan tanpa diberikan bab di dalamnya.


Kitab yang berisi pelbagai faedah ilmu ini merupakan sumber pengetahuan dengan kesimpulan-kesimpulan menarik. Ia mencakupi banyak pembahasan dan tidak khusus pada satu-satu tema tertentu sahaja, antara lain cakupan yang dibahaskan adalah:


1. Tafsir yang rumit di mana tidak terdapat dalam kitab-kitab tafsir yang ada. Tafsir tersebut hanya dapat diketahui dan difahami melalui penghayatan, pemahaman dan pendalaman terhadap sesebuah ayat.


2. Perkara-perkara sunnah yang sukar difahami melainkan jika diteliti, dibandingkan, diperhalusi, dan didisikusikan.


3. Manfaat dari pengalaman hidup, interaksi dengan manusia serta mengenal tokoh, madzhab dan karektor mereka.


4. Karektor peribadi dan pemahaman objektif berkenaan dengan pelbabai permasalahan dan cara mengatasinya bersesuaian dengan syari'at dan realiti.


5. Tata bahasa Arab dan balaghah (gaya bahasa arab) yang tiada bandingannya, yang dengannya muncullah pelbagai ungkapan dalam hiasan kata-kata indah dan tulisan yang menarik.


6. Kutipan bait-bait sya'ir pada tempat-tempat yang sesuai dengan tema tertentu.


Di dalam kitabnya ini, Ibnul Qayyim memperlihatkan seluruh apa yang telah diraihnya berupa kekuatan dalam memahami ilmu, kesempurnaan dalam menarik kesimpulan, ilmu yang mendalam sehingga membuat kagum orang-orang yang berakal dan membuat takjub orang-orang yang melihatnya kerana mereka merasa kalah dan lemah di hadapannya.


Sehingga kitab ini, jika pakar hadis membacanya nescaya dia akan mendapati apa yang diinginkannya. Jika ulama tafsir menikmatinya nescaya dia akan memperolehi apa yang selama ini dicarinya. Jika pakar bahasa arab dan balaghah membacanya nescaya mereka akan memetik sesuatu yang tidak didapati pada kitab-kitab bahasa dan balaghah lainnya. Jika pencari kebenaran membacanya nescaya dia akan mendapat-kan kaedah-kaedah tentang kebenaran yang berupaya memandu dirinya ke jalan Tuhan semesta alam.


Jika ahli ilmu kalam membacanya nescaya dia akan terkagum-kagum dengan kaedah-kaedah penting dalam bab ini yang dibuat oleh imam Ibnul Qayyim rahimahullah seolah-olah melemahkan apa yang disusun oleh mereka. Maklum adanya bahawa kaedah-kaedah yang dibuat oleh ahli kalam dapat di-patahkan satu persatu oleh kaedah ilmiyah yang mendalam dan dalil-dalil syari'at yang mantap tanpa ada pertikaian dan sikap emosional.


Di dalam kitab ini juga terdapat banyak kaedah yang relevan dengan fitrah manusia dan realita, kaedah yang membuat manusia mengenal Tuhan semesta alam secara benar, menunjuki manusia ke jalan-Nya, mendidik keimanan dalam hati dan memperbaharuinya, serta hal-hal yang menyebabkan Allah Ta'ala mencintai makhluk-Nya melalui nikmat dan kurnia yang Dia berikan.


Jika ulama Fiqh dan Ushul fiqh membacanya nescaya tanpa diduga mereka akan mendapatkan kaedah-kaedah Fiqih dan ushul Fiqh yang tidak terbetik dalam fikirannya, tidak pula didapati dalam kitab yang membahas ushul fiqih mahupun fiqh. Bahkan hal tersebul belum pernah dibahas oleh ahli Fiqh dan Ushul Fiqh dalam kitab-kitab yang mereka tulis. Lebih dari itu, banyak kaedah yang tidak mirip sama sekali dengan kaedah yang disusun oleh ulama fiqih dan ushul fiqih, bahkan mendekatinya pun tidak, kerana tidak terbetik sama sekali dalam benak mereka. Maka anda akan mendapatkan sesuatu yang menakjubkan betapa dalamnya pemahaman Ibnul Qayyim, banyaknya pengalaman yang dia miliki dan penyimpulan hukum dari dalil-dalil yang samar oleh kebanyakan ulama lainnya.


Jika penuntut ilmu di tingkat para pemula membacanya nescaya buku ini akan menerangi jalannya, menuntunnya pada landasan jelas yang akan membawanya kepada permasalahan-permasalahan ilmu yang hakiki, melepaskannya dari belenggu taklid, menjauhkannya dari pemahaman yang salah, menghubungkannya dengan hakikat melalui tangannya sendiri dan merasakan dengan hatinya sendiri.


Imam Ibnul Qayyim rahimahullah telah mengisyaratkan kitabnya ini di beberapa kitab yang beliau tulis di antaranya Al-Ijtima' Al-Juyus Al-Islamiyah dan Al-Ma'alim. Ibnul Qayyim rahimahullah di beberapa tempat dalam kitab¬nya ini menukil perkataan dari gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menunjukkan bahawa hal ini benar-benar berasal dari beliau.

Sumber: http://galeriniaga.blogspot.com/search/label/Tazkiyatun%20Nafs



الإقناع للموردي

al-Iqna' ( الإقناع )


Kitab al-Iqna’ ( الإقناع )[1] yang ingin dikongsi dengan pembaca adalah sebuah karya dalam bidang hadis hukum yang disusun oleh al-Imam al-Hafizh al-Mujtahid Abu Bakr Muhammad bin Ibrahim bin al-Munzir al-Naysaburi (318H), yang terkenal dengan gelaran Ibn al-Munzir.

Kandungan kitab ini dibahagikan kepada beberapa judul permasalahan fiqh yang dinamakan sebagai kitab tertentu, seperti kitab thaharah (bersuci), kitab Solat dan sebagainya.  Setiap kitab pula dibahagikan kepada beberapa bab.

Dalam kitab al-Iqna’ ini, Ibn al-Munzir bukan sekadar menghimpunkan hadis-hadis hukum sahaja, bahkan beliau juga memberikan huraian atau komentar setiap hadis tersebut.

Berdasarkan kitab al-Iqna’ yang ditahkik oleh Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-Jibrin, yang diterbitkan dengan cetakan pertamanya pada tahun 1988,  kitab ini diterbitkan dalam dua jilid (828 halaman). Kitab ini boleh dimuat turun di pautan  الإقناع







[1] Selain kitab ini, terdapat kitab lain yang juga berjudul al-Iqna’, antaramya;
a)    al-Iqna’ fi al-Fiqh al-Syafi’i (الإقناع في الفقه الشافعي), karya al-Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardi al-Bashri al-Baghdadi (364-450H). Baca maklumat lanjut di sini.
b)  al-Iqna’ fi Masail al-Ijma’ (الإقناع في مسائل الإجماع). Sebuah kitab yang memhimpun beberapa permasalahan hukum yang dianggap menjadi ijmak para ulama. Kitab ini disusun oleh al-Imam Ibn al-Qaththan Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Abdul Malik al-Katami al-Hamiri al-Fasi (). Kitab ini boleh dimuat turun di pautan http://waqfeya.com/book.php?bid=8916.
c)   al-Iqna’ fi Hal Alfazh Abi Syuja’  (الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع). Sebuah kitab fiqh mazhab Syafi’i karya al-‘Allamah Muhammad Al-Khathib al-Syarbini (977H). Baca maklumat lanjut mengenai kitab ini di sini..
d)      al-Iqna’ li Thalib al-Intifa’ (الإقناع لطالب الانتفاع). Sebuah kitab fiqh mazhab Hanbali karya Syarafuddin Abu al-Naja Musa bin Ahmad al-Hijjawi al-Maqdisi, al-Dimasyqi al-Hanbali (895-968H). Maklumat maklumat lanjut mengenai kitab ini, boleh dibaca sebuah artikel (dalam bahasa Arab) di pautan http://www.feqhweb.com/vb/t3139.html. Kitab ini boleh dimuat 

Download Kitab Al-Iqna' Fil Fiqhi Asy-Syafi'i - Imam Al-Mawardi

0 komentar:

Posting Komentar